
TERNATE, KOWAR.CO.ID-Provinsi Maluku Utara secara resmi memasuki babak baru dalam layanan kesehatan kardiovaskular dengan diresmikannya Gedung Jantung Terpadu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. H. Chasan Boesoirie oleh Gubernur Sherly Tjoanda, Jumat (28/8/2026).
Fasilitas ini menandai kesiapan daerah untuk melaksanakan operasi jantung terbuka secara mandiri, mengakhiri ketergantungan rujukan pasien ke luar pulau untuk penanganan kritis tersebut.
Peresmian fasilitas bernilai strategis ini disertai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Multipartit Pengampuan Jejaring Wilayah. Kolaborasi ini melibatkan jajaran rumah sakit rujukan nasional, termasuk RS Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan RSUD Dr. Soetomo Surabaya, bersama 10 Direktur RSUD Kabupaten/Kota se-Maluku Utara.
Gubernur Sherly Tjoanda menegaskan bahwa target operasional penuh telah ditetapkan.
“Alat medis telah terinstal dan tenaga dokter serta perawat telah menjalani pelatihan khusus. Kami menargetkan operasi jantung terbuka pertama dapat dilaksanakan pada Desember 2026,” ujar Sherly dalam sambutannya.

Kehadiran gedung ini melengkapi infrastruktur kesehatan jantung di Maluku Utara, yang sebelumnya hanya terpusat di Kabupaten Halmahera Utara. Gubernur menekankan urgensi waktu dalam penanganan serangan jantung di wilayah kepulauan.
“Satu jam adalah waktu krusial yang menentukan hidup dan mati. Karena jarak geografis tidak bisa diubah, sistem layanan kesehatanlah yang harus mendekati masyarakat,” tegasnya.
Direktur Utama RSJPD Harapan Kita, dr. Iwan Dakota, menyoroti beban finansial negara akibat tingginya kasus penyakit jantung.
Ia mengungkapkan data BPJS Kesehatan tahun 2025 menunjukkan penyerapan anggaran sebesar Rp 17,8 triliun dari total Rp 50 triliun khusus untuk penanganan jantung.
Angka ini menjadi dasar kuat mengapa efisiensi pelayanan jantung di daerah melalui desentralisasi layanan menjadi mutlak diperlukan.
Dr. Iwan menetapkan standar keberhasilan RSUD Chasan Boesoirie bukan hanya pada peresmian bangunan, melainkan pada kapasitas melakukan bedah jantung terbuka secara mandiri.
Ia juga memaparkan rencana ekspansi layanan spesialisasi lain, termasuk onkologi dan urologi, dengan target pemenuhan alat medis tuntas pada 2027-2028.
“Target utama kami pada 2030 adalah nol rujukan keluar. Masyarakat Maluku Utara tidak perlu lagi dikirim ke Surabaya; sebaliknya, tim pengampu nasional yang akan datang ke sini,” jelas dr. Iwan.
Untuk menjamin keberlanjutan sistem ini, pemerintah mendorong pendidikan putra-putri daerah menjadi tenaga medis spesialis.
Biaya pelatihan ditanggung penuh oleh Kementerian Keuangan dengan dukungan dana dari Danantara, memastikan ketersediaan sumber daya manusia lokal yang kompeten di masing-masing kabupaten/kota. (Tim)












Tinggalkan Balasan