
TERNATE, KOWAR.CO.ID-Ada kabar duka yang terasa berbeda bagi mereka yang pernah tumbuh bersama di dunia jurnalistik. Bukan sekadar karena seorang wartawan senior telah pergi, tetapi karena yang hilang adalah sosok yang pernah mengisi ruang redaksi dengan cerita, candaan, dan tawa di tengah kerasnya pekerjaan.
Selasa, 11 Agustus 2026, kabar itu datang. Adnan Ways, yang lebih akrab disapa Ko Nan, berpulang di Rumah Sakit Dharma Ibu, Ternate.
Bagi keluarga, ia tentu seorang ayah, saudara, dan orang terkasih. Bagi dunia jurnalistik Maluku Utara, ia adalah salah satu wartawan senior yang telah melewati perjalanan panjang. Namun bagi kami yang pernah menjadi junior dan bergaul dengannya, Ko Nan adalah cerita yang berbeda.
Ia bukan tipe senior yang selalu tampil kaku.
Ko Nan justru dikenal sebagai sosok yang humoris. Di tengah suasana kerja yang kadang tegang karena dikejar deadline, selalu ada saja celah baginya untuk melontarkan candaan. Obrolan yang awalnya serius bisa berubah menjadi tawa. Suasana yang mulai penat bisa kembali cair hanya karena satu celetukan sederhana darinya.

Itulah Ko Nan.
Senior, tetapi tidak membuat junior merasa berjarak.
Ada kalanya kami datang membawa berita, tetapi pulang membawa cerita. Ada saatnya pembicaraan soal pekerjaan berubah menjadi obrolan ringan. Bahkan dalam situasi yang melelahkan, kehadiran Ko Nan sering membuat suasana menjadi lebih santai.
Mungkin bagi orang lain, candaan-candaan itu terlihat sederhana. Tetapi bagi mereka yang pernah berada satu ruang dengannya, justru hal-hal kecil seperti itulah yang sekarang paling mudah dirindukan.
Sebab ketika seseorang telah pergi, yang paling sering kembali dalam ingatan bukan hanya nasihat besarnya, melainkan suara tawanya, gaya bicaranya, dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu dianggap biasa.
Ko Nan adalah bagian dari generasi wartawan yang tumbuh ketika media cetak masih menjadi salah satu kekuatan utama pers. Ia melewati masa ketika berita masih berangkat dari lembaran kertas, catatan wartawan, ruang redaksi, dan deadline yang menunggu.
Ia tahu bagaimana rasanya menjadi wartawan pada zaman ketika koran menjadi salah satu sumber utama informasi masyarakat.
Namun zaman tidak berhenti
Teknologi berkembang. Internet mengubah cara berita dibuat dan dikonsumsi. Media online mulai tumbuh dan perlahan mengubah wajah industri pers.
Ko Nan tidak memilih untuk berhenti di masa lalu.
Ia ikut membaca perubahan itu dengan merintis media online Pilingnews.com.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan jurnalistiknya. Dari lembaran koran ia ikut menyeberang ke dunia digital. Dari berita yang harus menunggu proses cetak, menuju berita yang dapat disebarkan dalam hitungan detik.
Bagi kami para junior, perjalanan itu memberikan pelajaran bahwa seorang wartawan harus mampu mengikuti zaman. Pengalaman panjang tidak boleh menjadi alasan untuk menutup diri terhadap perubahan.
Dan mungkin itulah salah satu hal yang membuat Ko Nan tetap relevan di tengah pergantian generasi.
Ia senior, tetapi tidak pernah benar-benar berhenti bergerak.
Di dunia jurnalistik, hubungan senior dan junior tidak selalu dibangun melalui ruang kelas atau pelatihan resmi. Banyak hal justru dipelajari dari meja redaksi, obrolan warung kopi, perjalanan ke lapangan, atau percakapan singkat setelah sebuah berita selesai ditulis.
Dari senior, junior belajar bagaimana menghadapi narasumber.
Belajar membaca situasi.
Belajar bahwa tidak semua informasi bisa langsung dipercaya.
Belajar bahwa sebuah berita bukan hanya soal cepat tayang, tetapi juga harus bisa dipertanggungjawabkan.
Ko Nan menjadi bagian dari proses belajar itu.
Tetapi ia mengajarkan banyak hal tanpa harus selalu tampil seperti seorang guru.
Kadang cukup dengan cerita.
Kadang dengan pengalaman.
Dan sering kali, dengan humor.
Ada pelajaran yang disampaikan serius. Ada pula yang justru lebih mudah diingat karena dibungkus dengan candaan.
Begitulah cara seorang senior meninggalkan pengaruh.
Tidak selalu dengan suara keras.
Tidak selalu dengan nasihat panjang.
Kadang cukup dengan menjadi dirinya sendiri.
Perjalanan Ko Nan juga tidak hanya berlangsung di ruang redaksi. Ia menjadi bagian dari perjalanan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Maluku Utara sejak masa awal perkembangan organisasi tersebut pada 2001 di bawah kepemimpinan Hasyim Ado.
Ia berinteraksi dengan berbagai generasi wartawan dan mengikuti dinamika organisasi profesi dari waktu ke waktu.
Pada 2022, dalam masa transisi kepengurusan PWI Maluku Utara, Ko Nan dipercaya menjadi Sekretaris PWI Maluku Utara, mendampingi Plt. Ketua Asri Fabanyo.
Di organisasi itu, perbedaan karakter dan pandangan menjadi bagian dari keseharian. Namun Ko Nan memiliki caranya sendiri untuk mencairkan suasana.
Humor menjadi salah satu cirinya.
Bagi seorang wartawan, mungkin ini hal kecil. Tetapi justru dari hal-hal kecil itu hubungan antar sesama wartawan menjadi dekat.
Sebab dunia pers tidak selalu mudah
Ada tekanan deadline. Ada berita yang sulit dikonfirmasi. Ada narasumber yang menghindar. Ada tulisan yang harus diperbaiki berkali-kali. Ada perdebatan di ruang redaksi.
Dan di tengah semua itu, kadang kita hanya membutuhkan seseorang yang bisa membuat kita tertawa.
Ko Nan adalah salah satu orang itu.
Kini orang tersebut telah pergi.
Kabar kepergiannya membuat ruang-ruang pergaulan wartawan terasa berbeda. Tidak ada lagi suara Ko Nan. Tidak ada lagi celetukan yang tiba-tiba muncul di tengah percakapan. Tidak ada lagi candaan yang dulu mungkin kita anggap biasa.
Barulah setelah ia pergi, kita sadar bahwa tawa seseorang ternyata bisa menjadi bagian penting dari sebuah kenangan.
Ko Nan telah menjalani perjalanan panjang
Ia datang dari era media cetak, kemudian mengikuti perubahan menuju media digital. Ia menjadi wartawan, merintis media online, dan mengabdikan diri dalam organisasi profesi wartawan.
Namun di balik semua catatan itu, ada sisi lain yang tidak akan tertulis dalam arsip media.
Ia adalah Ko Nan yang kami kenal.
Senior yang tidak selalu serius.
Senior yang bisa bercanda.
Senior yang membuat junior merasa dekat.
Senior yang kehadirannya membuat suasana menjadi lebih ringan.
Dan mungkin, justru sisi itulah yang paling lama akan tinggal dalam ingatan.
Suatu hari nanti, akan datang wartawan-wartawan muda yang tidak pernah bertemu Ko Nan. Mereka mungkin hanya mengenalnya melalui arsip, nama media yang pernah dirintisnya, atau cerita dari wartawan generasi sebelumnya.
Kepada mereka, kami akan bercerita bahwa pernah ada seorang senior bernama Adnan Ways.
Kami akan bercerita bahwa ia melewati masa koran dan ikut menyeberang ke dunia digital.
Kami akan bercerita bahwa ia pernah menjadi bagian dari perjalanan PWI Maluku Utara.
Tetapi kami juga akan bercerita bahwa Ko Nan bukan hanya soal jabatan, media, atau sejarah organisasi.
Ia adalah seorang senior yang humoris.
Seorang yang bisa membuat ruang redaksi terasa lebih hidup.
Seorang yang meninggalkan kenangan bukan hanya melalui pekerjaannya, tetapi juga melalui tawa yang pernah dibagikannya kepada orang-orang di sekitarnya.
Hari ini kami kehilangan seorang senior.
Tetapi kami tidak ingin hanya mengingat kepergiannya dengan kesedihan.
Kami juga ingin mengingat tawanya.
Candanya.
Cerita-ceritanya.
Dan cara sederhana yang membuat kehadirannya terasa dekat.
Sebab mungkin itulah cara terbaik mengenang seorang kawan: bukan hanya dengan menangisi kepergiannya, tetapi juga dengan tersenyum ketika mengingat semua kebaikan dan kebahagiaan yang pernah ia tinggalkan.
Selamat jalan, Ko Nan.
Terima kasih pernah menjadi senior, kawan, dan bagian dari perjalanan kami di dunia jurnalistik.
Terima kasih untuk berita yang pernah ditulis, media yang pernah dirintis, pengabdian yang pernah diberikan, dan terutama untuk tawa yang pernah dibagikan.
Dunia pers Maluku Utara akan terus berjalan.
Wartawan-wartawan muda akan terus datang.
Ruang redaksi akan terus dipenuhi berita dan deadline.
Tetapi di antara kesibukan itu, akan selalu ada ruang kecil untuk mengingat seorang senior yang pernah membuat kami tertawa.
Ko Nan, senior wartawan yang humoris dan penuh kenangan.
Selamat jalan, Abang Adnan Ways Terima kasih atas pengabdian, persahabatan, dan jejak yang telah ditinggalkan.
Dari tinta di lembaran koran hingga layar digital, perjalananmu telah menjadi bagian dari sejarah pers Maluku Utara.
Semoga segala amal dan kebaikanmu diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, diampuni segala khilaf dan kesalahan, serta ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan.
Al-Fatihah.












Tinggalkan Balasan