
SANANA, KOWAR.CO.ID-Di Desa Waibau, Kecamatan Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, angin sore seolah membawa kabar gembira bagi Saina Gailea (70). Wanita paruh baya ini akhirnya bisa tersenyum lebar, bukan karena harta karun yang ditemukan, melainkan karena sebuah hadiah kemanusiaan yang mengubah nasib masa tuanya. Sebuah rumah baru yang layak huni.
Rumah berukuran 7×7 meter itu kini berdiri kokoh, siap ditempati. Bagi Saina, ini bukan sekadar tumpukan batu bata dan kayu, melainkan sebuah hadiah dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda melalui Program Penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Sebelumnya, hidup Saina dipenuhi ketidakpastian. Setelah sang suami meninggal dunia, ia harus menghadapi kenyataan pahit, rumah tua peninggalan mereka sudah tidak layak dihuni. Dinding rapuh, atap bocor, dan lantai yang tidak lagi rata menjadi saksi bisu keterbatasannya.
Kondisi ini semakin berat ketika kedua anak perempuannya menikah dan menetap jauh di Ternate. Saina sempat harus menumpang tinggal di rumah kerabat. Meski mendapat tempat berteduh, rasa sungkan dan hilangnya privasi sering menghantui hari-harinya.
“Saya sempat menumpang di rumah kerabat,” kenang Saina kepada awak media, Selasa (22/9/2026), didampingi oleh Darmawan Buamona. Suaranya terdapat getaran haru saat menceritakan masa-masa sulit tersebut.

Kehadiran program RTLH menjadi titik balik bagi Saina. Bantuan hunian baru dari Pemprov Maluku Utara tidak hanya memberikan dinding pelindung, tetapi juga mengembalikan martabat dan kenyamanan seorang lansia untuk menjalani sisa hidupnya dengan tenang.
“Program RTLH ini sangat membantu saya. Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, dan Kepala Dinas Perumahan serta Kawasan Permukiman Provinsi Maluku Utara, Musyrifah Alhadar, atas bantuan yang diberikan,” ujar Saina dengan tulus.
Baginya, rumah baru ini adalah jaminan keamanan. Ia tidak lagi perlu khawatir akan cuaca ekstrem atau kondisi bangunan yang membahayakan. Kini, ia memiliki ruang pribadi yang nyaman untuk beristirahat dan beribadah.
Di balik kebahagiaannya, Saina menyimpan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Ia menyadari bahwa di Kabupaten Kepulauan Sula, masih banyak warga lain yang bernasib serupa, hidup di hunian yang hampir roboh dan membutuhkan uluran tangan.
Oleh karena itu, selain menyampaikan apresiasi, Saina juga menyelipkan harapan besar.
“Saya berharap ke depan Gubernur Maluku Utara dapat menambah kuota RTLH di Kepulauan Sula, agar lebih banyak warga yang membutuhkan dapat memperoleh manfaat yang sama,” pintanya.
Permintaan sederhana ini menjadi pengingat bahwa program sosial seperti RTLH bukan hanya soal angka pencapaian, melainkan tentang menyentuh hati masyarakat paling rentan.
Semoga komitmen Pemprov Maluku Utara untuk melanjutkan program ini tetap kuat. Agar kisah Saina Gailea tidak menjadi satu-satunya cerita sukses, melainkan awal dari banyaknya senyum lega yang terukir di wajah-wajah warga Maluku Utara lainnya.(Tim)












Tinggalkan Balasan